Waktu pertama kali gue mutusin buat jalan-jalan sendiri ke luar kota, kepala gue penuh banget sama "kata orang". Kata orang Bali cuma buat orang kaya. Kata orang ke Jogja harus bawa mobil. Kata orang naik gunung itu buang-buang tenaga. Dan gue, sebagai pemula yang baru pertama kali nyemplung ke dunia traveling, ya percaya aja. Ujung-ujungnya trip pertama gue kacau bukan karena destinasi atau budget, tapi karena mitos-mitos yang gue telan mentah-mentah.
Nah, tulisan ini buat kamu yang baru mau coba-coba jalan-jalan dan mungkin masih ragu karena denger bisik-bisik dari teman, grup WA, atau komentar di media sosial. Yuk, kita bongkar satu-satu.
Mitos 1: Liburan ke Bali Itu Mahal, Cuma Buat Orang Sultan
Ini mitos paling nempel di kepala gue dulu. Setiap kali ada yang nyebut Bali, bayangan gue langsung ke villa kolam pinggir pantai, sewa motor, dan bill yang bikin dompet nangis. Padahal kenyataannya?
Bali bisa banget dinikmati dengan budget mahasiswa. Ada penginapan model guest house di Ubud dengan harga di bawah seratus ribu semalam. Warung lokal di Denpasar atau Singaraja jual nasi campur dengan harga yang nggak beda jauh dari warung deket kos. Yang mahal itu bukan Balinya, tapi gaya liburan yang kita pilih.
Baca juga: Bawa Bayi Jalan-Jalan? Waspadai 6 Tanda Ini Sebelum Terlambat
Kalau kamu mau ngejar sunrise di Pantai Sanur atau nongkrong di Pantai Kuta sambil nyewa tikar, itu gratis. Yang bikin boros itu kalau kamu maksa nginep di Canggu karena "katanya Instagramable", padahal kamu tipe yang nggak suka keramaian.
Bali itu bukan mahal. Yang mahal itu ekspektasi kita yang nggak sesuai sama isi dompet.
Mitos 2: Harus Punya Kamera Canggih Biar Liburan Berasa Berarti
Gue pernah hampir nggak jadi berangkat ke Bromo cuma karena nggak punya DSLR. Rasanya kayak "percuma ke sana kalau nggak bisa foto bagus". Bodoh banget, kan? Untung teman gue ngajak mikir ulang.
Percaya deh, pemandangan Gunung Bromo saat matahari terbit nggak butuh lensa mahal buat bikin kamu merinding. Yang bikin trip kamu berkesan itu pengalaman, bukan hasil foto di feed. HP sekarang udah cukup kok buat dokumentasi. Bahkan banyak traveler yang justru lebih santai karena nggak sibuk ngatur setting kamera.
Lagipula, kalau kamu sibuk banget mikirin angle, kamu bisa lupa ngobrol sama orang lokal, lupa nyicip makanan khas, atau lupa sekadar duduk diam menikmati suasana. Itu jauh lebih sayang daripada foto blur.
Mitos 3: Solo Traveling Itu Nyeremin dan Nggak Aman
Ini mitos yang paling sering bikin pemula mundur. Jujur, gue juga sempat takut. Bayangan gue waktu itu: kesasar di kota orang, nggak ada yang nolongin, dan pulang bawa trauma.
Kenyataannya, solo traveling di Indonesia itu justru sering bikin kamu ketemu orang baik. Di Malang, gue pernah ditawarin tumpangan sama bapak-bapak yang lagi ngantar anaknya sekolah. Di Yogyakarta, gue dikasih tahu tempat makan murah sama penjual batik. Hal-hal kayak gini nggak akan kamu alami kalau kamu terus-terusan jalan sama grup yang sudah kamu kenal.
Soal aman atau nggak, itu balik ke persiapan kamu. Pilih penginapan yang review-nya jelas, kabari keluarga soal itinerary, dan jangan sok berani ke tempat yang kamu nggak paham situasinya. Solo traveling bukan soal nekat, tapi soal sadar diri.
Yang perlu kamu siapkan sebelum solo trip pertama
- Rencana kasar per hari, bukan jadwal kaku per jam
- Nomor darurat lokal dan kontak penginapan
- Uang tunai secukupnya, karena nggak semua tempat di Indonesia terima QRIS
- Power bank dan obat-obatan pribadi
- Sedikit keberanian buat ngobrol sama orang baru
Mitos 4: Naik Gunung Itu Cuma Buat yang Fisiknya Prima
Gue nggak pernah olahraga rutin. Nggak pernah gym. Tapi gue berhasil sampai puncak Gunung Prau waktu itu, walau jalannya pelan banget dan beberapa kali berhenti buat ngos-ngosan.
Naik gunung itu bukan lomba lari. Kamu boleh jalan pelan, boleh istirahat sebanyak yang kamu mau, boleh nangis di tengah jalan kalau capek. Yang penting kamu dengerin tubuh sendiri. Banyak pemula gagal bukan karena fisiknya lemah, tapi karena maksa ikut tempo orang lain yang udah pengalaman.
Pilih gunung yang levelnya sesuai. Kalau baru pertama kali, jangan langsung Rinjani. Coba dulu Gunung Papandayan atau Gunung Prau yang ramah buat pemula. Bawa air cukup, jaket, dan camilan. Sisanya, nikmatin aja.
Mitos 5: Liburan Harus Jauh Biar Berasa Liburan
Ini yang paling sering gue denger dari teman-teman kantoran: "Liburan ke deket-deket mah nggak berasa liburan." Padahal, liburan itu soal otak kamu berhenti mikirin kerjaan, bukan soal berapa kilometer kamu tempuh.
Gue pernah punya akhir pekan yang jauh lebih menyenangkan cuma dengan naik kereta ke Bogor, nginep di rumah teman, dan besoknya jalan pagi di Kebun Raya. Nggak sampai dua ratus ribu total pengeluaran. Tapi kepala gue segar banget waktu Senin datang.
Sebaliknya, gue juga pernah "liburan jauh" ke Lombok tapi tiga hari pertama masih buka laptop buat bales email. Hasilnya? Capek, nggak puas, dan pengen liburan lagi. Jadi bukan jaraknya, tapi niat kamu buat beneran lepas dari rutinitas.
Jadi, Mulai dari Mana?
Kalau kamu pemula dan masih bingung, mulailah dari yang paling dekat dan paling murah. Nggak usah langsung mikirin Bali atau Labuan Bajo. Coba dulu kota sebelah, atau tempat wisata yang selama ini kamu anggap "biasa aja". Kadang justru di situ kamu nemu pengalaman yang bikin kamu pengen jalan lagi.
Buang jauh-jauh mitos yang bikin kamu ragu. Setiap orang punya gaya liburannya sendiri, dan nggak ada satu aturan yang cocok buat semua orang. Yang penting kamu berangkat, nikmatin prosesnya, dan pulang bawa cerita.
Siapa tahu, mitos berikutnya yang kamu bongkar justru datang dari pengalamanmu sendiri.